Kamis, 23 Januari 2014

Jenuh, Mimpi

aku terfikir tentang apa yang sedang aku jalani saat ini, bekerja, organisasi, mengajar....tiga pekerjaan yang masing-masing aku lakukan dengan tujuan yang berbeda.
aku bekerja dengan tujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan kehidupan ku atau, sebut saja demi gaji...ya demi gaji. aku bekerja pada bidang yang aku sukai......menulis, menyusun sebuah buku, tapi entahlah sepertinya akhir2ini aku mulai merasa jenuh dengan apa yang aku lakukan. berhari-hari aku tak punya ide untuk memulai menyusun kalimat, aku buntu akan materi dari outline yang aku ciptakan sendiri, aku mulai khawatir dengan deadline, dan aku mulai TIDAK NYAMAN.
aku menyukai apa yang ada dalam pekerjaanku saat ini namun, aku hanya tak menyukai sistem kerja yang teratur, sistem kerja yang mengharuskanku duduk dalam ruangan sendirian, menatap layar komputer dari jam 8 sampai jam 5 sore, dan puncaknya adalah tentang apa yang aku kerjakan.
aku bekerja sebagai seorang asisten pribadi direktur utama sebuah rumah sakit besar di kota pelajar. asisten pribadi untuk membantu beliau menyusun sebuah buku tentang dunia keperawatan. dunia yang aku tak pernah tertarik. dunia yang aku tak pernah tau sama sekali.
awalnya, aku berpikir ini adalah sebuah tantangan namun akhir-akhir ini aku sadar bahwa sepertinya aku bukan pemenang dalam tantangan ini. aku mulai resah karena banyaknya aturan dalam penulisan buku teori, aku tak bisa menggunakan bahasa yang aku suka sebagai mana layaknya tulisanku-tuklisanku yang lain, aku tak boleh menggunakan bahasa kiasan dan segala harus teratur....SEMPURNA.
dalam dunia ku yang lain. aku masih saja dengan kegiatan lama ku, berorganisasi, berkumpul dengan orang-orang yang se visi, melakukan hal-hal yang tak berbayar materi dan aku selalu "bahagia" melakukannya. saat aku lelah dengan pekerjaanku, maka bersama teman-teman organisasiku aku merasa lelah itu terbuang. aku bahagia seutuhnya, bahagia jiwa. dan keadaan ini semakin membuatku bertanya "apa yang ku cari?"...  
uang memang bagian dari kebutuhan hidup tapi, apa arti punya uang jika tak punya kenyamanan?? aku sadar, bahwa hidup itu harus realistis. realistis bahwa uang adalah bagian dari  kebutuhan dan tanpa uang aku tak bisa melakukan banyak hal yang aku suka. ahh...dalam keadaan begini aku kembali pada pengandaianku akan kehidupan dalam mimpiku. bekerja sambil bermain, atau bermain sambil bekerja. segalanya menyenangkan, menjadikan hobi dan kesenangan sebagai sumber penghasilan, plus plus kan??. tetap bahagia dan tetap bisa sejahtera. 
namun barangkali untuk saat ini kehidupan yang begitu hanya bisa aku impikan belum bisa aku wujudkan. karena tak cukup mudah mewujudkannya, namun bukan berarti tak berusaha. aku selalu berusaha merealisasikan apa yang ada dalam impianku, sedikit demi sedikit. menekuni hobi,serius dalam permainanku, dan konsisten. aku yakin suatu saat aku pasti bisa mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan, karena batu saja bisa kalah oleh tetesan air yang lembut tapi terus menerus. jadi, pastilah impian yang aku usahakan keseriusannya secara terus menerus ini akan jadi pemenang, mengalahkan kenyataan yang perlahan aku tinggalkan...PASTI

JIH, 01  Mei 2013
Tentang “kita”

Beberapa waktu ini aku selalu merasa ada yang telah berubah dari apa yang telah kita jaga. Kau yang sekarang, aku pikir bukan lagi kau yang sama yang dulu yang pernah aku kenal. Entah benar kau yang telah berubah atau aku yang tak lagi sama. Sekarang kau dan aku begitu berjarak. Tak ada lagi sapaan basa basi, tak ada lagi cerita, bahasan tentang hal-hal yang tak penting dan sangat penting, dan yang pasti taka da lagi pertengkaran tanda keakraban kita. Entah hanya aku yang merasakan ini, atau kau juga ikut merasa.

Barangkali sekarang aku dan kau harus mendefinisi ulang kata “kita”. Karena aku dan kau yang seperti sekarang rasanya tak pantas lagi disebut “kita”. Aku dan kau telah menjadi berbeda, jauh, penuh jarak dan hamper tak saling menjangkau.
Aku masih ingat, saat semua ini aku pikir bermula. Aku yang memutuskan untuk memulai menjaraki mu. Belajar menjauh sebab aku ingin semuanya menjadi lebih baik untukku.  Untuk perasaanku dan untuk cara pandang “mereka” terhadap “kita”. Aku mulai belajar melepas, dan kau saat itu yang aku tau sedang mencari sandaran untuk hatimu yang sedang terluka.
“Sahabat” kata yang tanpa kita sepakati  pada akhirnya terpilih oleh waktu sebagai identitas “kita”.  “sahabat” bukan hal yang mudah untuk seorang kau bias menerima kata itu sebagai identitas sebuah hubungan, begitu juga denganku. Tapi biarlah toh  “sahabat”  adalah penyebutan yang diberikan oleh waktu  yang dengan demikian santunnya ia maka kita tak merasa namun terbiasa menyebut satu dan yang lainnya sebagai “sahabat”.
Sebagai “sahabat” seharusnya aku adalah orang pertama yang ada dan siap menjadi sandaranmu ketika kau terluka, tapi waktu itu aku tak mampu melakukannya. Aku memilih untuk melangkah menjauhimu. Perlahan. justru disaat kau sedang butuh sandaran. Bukan aku egois, bukan  aku angkuh, tapi sungguh aku tak lagi punya pilihan. Andai kau tau. Perjuangan melawan perasaan, itu yang sedang aku lakukan dan aku kalah. Maka aku menyerah. Aku mundur. Jika kau saat itu sedang terluka, maka sebenarnya aku lebih terluka. Karena melihatmu sakit itu jauh lebih menyakitkan untukku. Dan saat aku perlahan menjauh itulah aku tau, bahwa kau telah punya sandaran. Aku bahagia dan semakin tak ragu untuk “meniggalkanmu”. Apalagi yang harus aku ragukan???  Kau sudah tak lagi punya beban, tanggungjawabmu sudah hamper sepenuhnya bisa kau penuhi dan yang terpenting kau sudah menemukan “dia” sandaranmu yang baru.
Kenapa juga aku harus tidak bahagia??? Bukankah kebahagiaan seorang sahabat adalah ketika mendapati kebahagiaan sahabat lainnya. Dan sejak keputusan itu maka aku dan kau mulai menjadi “asing”. Aku sibuk dengan penyelesaian tanggungjawabku, dan kau sudah mulai nyaman dengan dunia barumu bersama “dia”. Kita tak lagi sering berbagi. Dan puncaknya adalah aku benar-benar menghindarimu dan “dia”.
Sekarang, sudah lebih dari 1 tahun aku dan kau berjarak. Rindu. Pasti. Menyesal. Terkadang. Tapi rindu dan penyesalanku bukan tentang “kita” tapi tentang “sahabat”. Tak seharusnya persahabatan kalah oleh perasaan. Tak seharusnya aku menjadi lemah. Dan tentang kau, entahlah. Aku tak akan berkata jika itu hanya sekedar menerka. Apa yang kau rasakan?? Apakah kau punya rindu untuk kenangan?? Apakah kau punya harapan untuk kau dan aku menjadi “kita” dalam “sahabat” yang sebenarnya?? Aku memang benar menanyakannya dan aku tak akan menerka jawabannya. Biarlah waktu yang menjawab seperti ketika dulu dia memberikan identitas “sahabat” untuk “kita”.