Tentang
“kita”
Beberapa
waktu ini aku selalu merasa ada yang telah berubah dari apa yang telah kita
jaga. Kau yang sekarang, aku pikir bukan lagi kau yang sama yang dulu yang
pernah aku kenal. Entah benar kau yang telah berubah atau aku yang tak lagi
sama. Sekarang kau dan aku begitu berjarak. Tak ada lagi sapaan basa basi, tak
ada lagi cerita, bahasan tentang hal-hal yang tak penting dan sangat penting,
dan yang pasti taka da lagi pertengkaran tanda keakraban kita. Entah hanya aku
yang merasakan ini, atau kau juga ikut merasa.

Aku
masih ingat, saat semua ini aku pikir bermula. Aku yang memutuskan untuk
memulai menjaraki mu. Belajar menjauh sebab aku ingin semuanya menjadi lebih
baik untukku. Untuk perasaanku dan untuk
cara pandang “mereka” terhadap “kita”. Aku mulai belajar melepas, dan kau saat
itu yang aku tau sedang mencari sandaran untuk hatimu yang sedang terluka.
“Sahabat”
kata yang tanpa kita sepakati pada
akhirnya terpilih oleh waktu sebagai identitas “kita”. “sahabat” bukan hal yang mudah untuk seorang
kau bias menerima kata itu sebagai identitas sebuah hubungan, begitu juga
denganku. Tapi biarlah toh
“sahabat” adalah penyebutan yang
diberikan oleh waktu yang dengan
demikian santunnya ia maka kita tak merasa namun terbiasa menyebut satu dan
yang lainnya sebagai “sahabat”.
Sebagai
“sahabat” seharusnya aku adalah orang pertama yang ada dan siap menjadi
sandaranmu ketika kau terluka, tapi waktu itu aku tak mampu melakukannya. Aku
memilih untuk melangkah menjauhimu. Perlahan. justru disaat kau sedang butuh
sandaran. Bukan aku egois, bukan aku
angkuh, tapi sungguh aku tak lagi punya pilihan. Andai kau tau. Perjuangan
melawan perasaan, itu yang sedang aku lakukan dan aku kalah. Maka aku menyerah.
Aku mundur. Jika kau saat itu sedang terluka, maka sebenarnya aku lebih
terluka. Karena melihatmu sakit itu jauh lebih menyakitkan untukku. Dan saat
aku perlahan menjauh itulah aku tau, bahwa kau telah punya sandaran. Aku
bahagia dan semakin tak ragu untuk “meniggalkanmu”. Apalagi yang harus aku
ragukan??? Kau sudah tak lagi punya
beban, tanggungjawabmu sudah hamper sepenuhnya bisa kau penuhi dan yang
terpenting kau sudah menemukan “dia” sandaranmu yang baru.
Kenapa
juga aku harus tidak bahagia??? Bukankah kebahagiaan seorang sahabat adalah
ketika mendapati kebahagiaan sahabat lainnya. Dan sejak keputusan itu maka aku
dan kau mulai menjadi “asing”. Aku sibuk dengan penyelesaian tanggungjawabku,
dan kau sudah mulai nyaman dengan dunia barumu bersama “dia”. Kita tak lagi
sering berbagi. Dan puncaknya adalah aku benar-benar menghindarimu dan “dia”.
Sekarang,
sudah lebih dari 1 tahun aku dan kau berjarak. Rindu. Pasti. Menyesal.
Terkadang. Tapi rindu dan penyesalanku bukan tentang “kita” tapi tentang
“sahabat”. Tak seharusnya persahabatan kalah oleh perasaan. Tak seharusnya aku menjadi
lemah. Dan tentang kau, entahlah. Aku tak akan berkata jika itu hanya sekedar
menerka. Apa yang kau rasakan?? Apakah kau punya rindu untuk kenangan?? Apakah
kau punya harapan untuk kau dan aku menjadi “kita” dalam “sahabat” yang
sebenarnya?? Aku memang benar menanyakannya dan aku tak akan menerka
jawabannya. Biarlah waktu yang menjawab seperti ketika dulu dia memberikan
identitas “sahabat” untuk “kita”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar