Senin, 10 Februari 2014

SAHABAT...

Aku bahagia punya kalian…
Davi, ochan, jul….3 orang yang paling ga banget menurut orang lain tapi iya banget menurut kita bertiga….hehe…
Mereka ber-2 adalah teman masa kuliah. Hampir 4 tahun kita habiskan bersama. Tapi bukan berarti kita selalu sama-sama ya…..menurutku pertemanan kami cukup unik, kami hampir tak pernah duduk berjajar bertiga dalam kelas. Dalam diskusi kami juga tak pernah saling dukung yang ada kami saling beradu argument pokoknya kalau bisa siapa diantara kita yang sedang didepan itu jadi diem dan patah argumennya.
Kami juga hampir tidak pernah berkumpul bareng dalam acara kumpul-kumpul kampus. Ochan punya genk sendiri kalau ga salah namanya The Barb’s, dia selalu kumpul dengan genknya dan juga selalu disediakan tempat duduk istimewa untuknya dari teman genknya. Pokoknya kalau dikelas dia adalah milik genknya. Davi…ahh…makhluk satu ini. Dia juga sama, punya komunitas alias teman ngumpul sendiri sesame temen cowok, maklumlah cowok di kelasku hanya 5 orang, itupun sudah masuk dalam kategori banyak banget karena kelas yang lain paling mentok Cuma 3 ada juga yang 1…davi hampir dan sangat tidak pernah duduk disampingku kalau di kelas entah karena apa, tapi aku selalu bersyukur karena kalau sampai aku duduk sebelahan sama dia pasti yang ada kelas bubar,,,karena kami sibuk berantem ga jelas dan teman-teman sibuk ngamuk karena itu…
Dan tentang siapa mereka di kampus?? Inilah uraian singkat dan tidak padat ku.
Ochan, nama aslinya adalah Hosana. Dia kecil atau lebih manisnya aku sebut dia Mungil. Tingginya tidak sampai 150 Cm. asli Sulawesi hanya saja sudah mulai sekolah di jogja sejak kelas 4 SD, di jogja ochan tinggal bareng sama budhe dan pakdhenya yang juga seorang Pendeta di daerah kaliurang KM 9. Ochan tinggal di rumah itu bersama dengan beberapa sepupunya dan salah satu sepupunya ada yang satu kelas dengan kami namanya Erna Podhengge tapi biasa di panggil Enchut….and well…aku juga ga ngerti kenapa panggilan nama mereka demikian lucu. Aku belum sempat Tanya alasan panggilan itu sampai sekarang. Ochan adalah sosok yang periang, rame, vocal, pokoknya dimanapun kalau ada dia suasananya pasti berubah jadi rame. Ochan selalu care dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, selalu jadi orang pertama untuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya “demi kebersamaan”. Satu lagi, ochan itu tomboy tapi banyak punya aksesoris yang warnanya pink. Selalu berponi dan kalau pas ada acara natalan atau kondangan pasti dia akan berubah jadi bidadari yang feminin banget pakaiannya tapi tidak dengan auranya yang tetap aura tomboy…peace Chan, ini jujur lho… diantara kita bertiga Ochan itu ibarat kipas angin, dia selalu bisa buat suasana jadi adem lagi meskipun aku dan davi lagi panas-panasnya. Ochan itu smart, nyambung banget kalau diajak diskusi, kritis…dan ga pernah ragu untuk berpendapat. Pokoknya Ochan itu anaknya easy going banget deh….
Muhammad Aldafikin atau yang biasa di panggil Davi, asal dari Palembang tapi ayahnya orang jogja. kalau dilihat secara fisik inilah pemaparannya. Tinggi sekitar 170 CM, kurus, berkacamata minus 3,5, kemana-mana selalu pake jaket, kulit jauh lebih terang dari kulitku…hehe, rambut lurus kayaknya. Wajah mirip sama dokter boyke kata orang-orang.  Karakter atau sifat. Oke…untuk bagian ini, aku hanya menggunakan sudut pandang berdasarkan pengalamanku berteman dengan dia ya, jadi maaf jika tidak sesuai dengan pendapat banyak orang. Davi itu keras kepala, ngeyel, ga mau kalah, suka marah-marah dan gengsinya selangit. Tapi dia masih punya sisi baik kok, dia Care, penyayang, kalau naik motor kencengnya minta ampun. Dan davi adalah orang paling kekeh ga mau baik sama aku katanya “kiamat jul, kalau aku baik sama kamu”. Ya rabb…ga papa deh dia ga baik sama aku dari pada ntar kiamat beneran kan semuanya jadi repot ga Cuma aku aja yang repot.
Davi dan aku adalah 2 orang yang paling ga pernah akur di kelas kami, mungkin juga di kampus. Tiap ketemu selalu ada saja hal-hal yang pada akhirnya harus berakhir dengan perdebatan. Mungkin karena kami sama-sama ga mau kalah. Namun di lain sisi davi bisa di bilang merupakan salah satu idola di kampus karena setiap angkatan ada aja yang suka sama dia, mulai dari angkatan paling baru, se grade, sampai kakak kelas, mulai dari cewek beneran sampai cowok yang ke cewek-cewek an, ngeri deh pokoknya. Dan untuk hal satu itu, di kelasku juga ga ketinggalan. Ada 2 yang pasti aku tau suka sama dia, entah suka beneran atau Cuma suka-sukaan dan sisannya yang tidak aku tau aku tak tau berapa jumlahnya, ada yang bilang sih lebih dari 3 tapi entahlah….aku juga malas menanyakannya. Dan sampai dengan hari terakhir kami di kampus aku juga masih tidak habis pikir kenapa bisa seperti itu, dari mana mereka memandangnya??? Apa karena dia pinter, otaknya encer? Atau karena dia suka banget ngajak debat orang?? Atau karena yang lain?? Apa??? Entahlah…
2 orang ini punya sifat yang sama, sama-sama tertutup untuk urusan pribadi. Dan karena kami sadar itu maka kami menghormati prinsip masing-masing. Selama kami bersama yang aku tau ochan ga punya pacar atau barangkali punya tapi aku tidak tau, davi punya pacar, kakak angkatan, pacarnya jaman dulu ini temenku juga. Tapi setelah sekitar 2 tahun pacaran mereka putus, dan tidak butuh waktu lama buat seorang davi untuk dapat pacar lagi. Sekitar 3 bulan pasca putus pacar baru pun ada, kali ini pacarnya adik angkatan yang aku tau udah suka sama dia sejak dia masih pacaran sama yang dulu. Untuk hubungan dengan pacarnya yang sekarang aku tidak dekat bahkan bisa dibilang jauh, meskipun aku kenal juga. But well….anything I always hope the best for you dav…
Jika ada yang Tanya bagaimana pertemanan kami, maka aku akan menjawab, “entahlah” kami memang jarang bersama ketika di kelas tapi kami sering melakukan beberapa hal bareng di luar kampus. Seperti ngurus tugas bareng, bikin acara bareng, magang di tempat yang sama dan juga lari dari keramaian menuuju tempat yang sama. Kami sering mendiskusikan hal-hal remeh temeh bersama dan barangkali itu yang membuat kami bersama. Aku tidak bisa menggamnbarkan ini secara detail dan utuh, karena yang aku rasakan adalah lebih dari sekedar kata-kata.
Kita sama-sama faham, bahwa kita sama-sama bukan orang yang mudah untuk memberikan predikat “sahabat” untuk orang lain dan “persahabatan” untuk sebuah hubungan pertemanan namun pada akhirnya kita secara tidak sadar sering mengatakan “sahabatku” untuk satu dan yang lainnya.
Kita adalah orang yang paling ga banget menurut orang lain, karena kita yang suka bertanya, kita yang ngeyel, kita yang selalu dapat Black list dari daftar penanya untuk forum diskusi kelas dan kampus. Kita yang dikenal sebagai pasangan hobi protes, dan banyak cap lainnya untuk kita tapi aku tidak pernah menyesal untuk semua cap kurang bagus itu, karena bagiku mengenal kalian sama dengan aku belajar mengenal cara mengekspresikan diri dalam kejujuran.
Kawan….kalian adalah pelengkap bagiku, kalian yang mengajarkan aku cara untuk berani melawan arus untuk mengejar sebuah mimpi. Kita yang apapun perbedaan antara satu dan yang lainnya selalu bisa menjadi sesuatu, karena bagi kita sama itu ga asik. Sekarang, kita sudah berjarak dan komunikasi kita juga tak sesering dulu lagi, tak apa….mungkin karena memang hidup harus demikian, berjarak untuk bisa melihat,. Melihat bahwa kita punya sesuatu yang indah untuk dikenang dari kejauhan, dirindukan jika masih dirasakan, dan di do’akan karena kita tak lagi berdekatan…..
Terima kasih kawan….untuk cerita ini, penggalan ini…aku yakin Tuhan akan selalu memberi yang terbaik untuk kita…mari kita kejar mimpi masing dengan tetap jujur pada semesta…..
Aku sayang kalian…..
Temandang, 8 feb 2014

14.10 wib

Kamis, 23 Januari 2014

Jenuh, Mimpi

aku terfikir tentang apa yang sedang aku jalani saat ini, bekerja, organisasi, mengajar....tiga pekerjaan yang masing-masing aku lakukan dengan tujuan yang berbeda.
aku bekerja dengan tujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan kehidupan ku atau, sebut saja demi gaji...ya demi gaji. aku bekerja pada bidang yang aku sukai......menulis, menyusun sebuah buku, tapi entahlah sepertinya akhir2ini aku mulai merasa jenuh dengan apa yang aku lakukan. berhari-hari aku tak punya ide untuk memulai menyusun kalimat, aku buntu akan materi dari outline yang aku ciptakan sendiri, aku mulai khawatir dengan deadline, dan aku mulai TIDAK NYAMAN.
aku menyukai apa yang ada dalam pekerjaanku saat ini namun, aku hanya tak menyukai sistem kerja yang teratur, sistem kerja yang mengharuskanku duduk dalam ruangan sendirian, menatap layar komputer dari jam 8 sampai jam 5 sore, dan puncaknya adalah tentang apa yang aku kerjakan.
aku bekerja sebagai seorang asisten pribadi direktur utama sebuah rumah sakit besar di kota pelajar. asisten pribadi untuk membantu beliau menyusun sebuah buku tentang dunia keperawatan. dunia yang aku tak pernah tertarik. dunia yang aku tak pernah tau sama sekali.
awalnya, aku berpikir ini adalah sebuah tantangan namun akhir-akhir ini aku sadar bahwa sepertinya aku bukan pemenang dalam tantangan ini. aku mulai resah karena banyaknya aturan dalam penulisan buku teori, aku tak bisa menggunakan bahasa yang aku suka sebagai mana layaknya tulisanku-tuklisanku yang lain, aku tak boleh menggunakan bahasa kiasan dan segala harus teratur....SEMPURNA.
dalam dunia ku yang lain. aku masih saja dengan kegiatan lama ku, berorganisasi, berkumpul dengan orang-orang yang se visi, melakukan hal-hal yang tak berbayar materi dan aku selalu "bahagia" melakukannya. saat aku lelah dengan pekerjaanku, maka bersama teman-teman organisasiku aku merasa lelah itu terbuang. aku bahagia seutuhnya, bahagia jiwa. dan keadaan ini semakin membuatku bertanya "apa yang ku cari?"...  
uang memang bagian dari kebutuhan hidup tapi, apa arti punya uang jika tak punya kenyamanan?? aku sadar, bahwa hidup itu harus realistis. realistis bahwa uang adalah bagian dari  kebutuhan dan tanpa uang aku tak bisa melakukan banyak hal yang aku suka. ahh...dalam keadaan begini aku kembali pada pengandaianku akan kehidupan dalam mimpiku. bekerja sambil bermain, atau bermain sambil bekerja. segalanya menyenangkan, menjadikan hobi dan kesenangan sebagai sumber penghasilan, plus plus kan??. tetap bahagia dan tetap bisa sejahtera. 
namun barangkali untuk saat ini kehidupan yang begitu hanya bisa aku impikan belum bisa aku wujudkan. karena tak cukup mudah mewujudkannya, namun bukan berarti tak berusaha. aku selalu berusaha merealisasikan apa yang ada dalam impianku, sedikit demi sedikit. menekuni hobi,serius dalam permainanku, dan konsisten. aku yakin suatu saat aku pasti bisa mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan, karena batu saja bisa kalah oleh tetesan air yang lembut tapi terus menerus. jadi, pastilah impian yang aku usahakan keseriusannya secara terus menerus ini akan jadi pemenang, mengalahkan kenyataan yang perlahan aku tinggalkan...PASTI

JIH, 01  Mei 2013
Tentang “kita”

Beberapa waktu ini aku selalu merasa ada yang telah berubah dari apa yang telah kita jaga. Kau yang sekarang, aku pikir bukan lagi kau yang sama yang dulu yang pernah aku kenal. Entah benar kau yang telah berubah atau aku yang tak lagi sama. Sekarang kau dan aku begitu berjarak. Tak ada lagi sapaan basa basi, tak ada lagi cerita, bahasan tentang hal-hal yang tak penting dan sangat penting, dan yang pasti taka da lagi pertengkaran tanda keakraban kita. Entah hanya aku yang merasakan ini, atau kau juga ikut merasa.

Barangkali sekarang aku dan kau harus mendefinisi ulang kata “kita”. Karena aku dan kau yang seperti sekarang rasanya tak pantas lagi disebut “kita”. Aku dan kau telah menjadi berbeda, jauh, penuh jarak dan hamper tak saling menjangkau.
Aku masih ingat, saat semua ini aku pikir bermula. Aku yang memutuskan untuk memulai menjaraki mu. Belajar menjauh sebab aku ingin semuanya menjadi lebih baik untukku.  Untuk perasaanku dan untuk cara pandang “mereka” terhadap “kita”. Aku mulai belajar melepas, dan kau saat itu yang aku tau sedang mencari sandaran untuk hatimu yang sedang terluka.
“Sahabat” kata yang tanpa kita sepakati  pada akhirnya terpilih oleh waktu sebagai identitas “kita”.  “sahabat” bukan hal yang mudah untuk seorang kau bias menerima kata itu sebagai identitas sebuah hubungan, begitu juga denganku. Tapi biarlah toh  “sahabat”  adalah penyebutan yang diberikan oleh waktu  yang dengan demikian santunnya ia maka kita tak merasa namun terbiasa menyebut satu dan yang lainnya sebagai “sahabat”.
Sebagai “sahabat” seharusnya aku adalah orang pertama yang ada dan siap menjadi sandaranmu ketika kau terluka, tapi waktu itu aku tak mampu melakukannya. Aku memilih untuk melangkah menjauhimu. Perlahan. justru disaat kau sedang butuh sandaran. Bukan aku egois, bukan  aku angkuh, tapi sungguh aku tak lagi punya pilihan. Andai kau tau. Perjuangan melawan perasaan, itu yang sedang aku lakukan dan aku kalah. Maka aku menyerah. Aku mundur. Jika kau saat itu sedang terluka, maka sebenarnya aku lebih terluka. Karena melihatmu sakit itu jauh lebih menyakitkan untukku. Dan saat aku perlahan menjauh itulah aku tau, bahwa kau telah punya sandaran. Aku bahagia dan semakin tak ragu untuk “meniggalkanmu”. Apalagi yang harus aku ragukan???  Kau sudah tak lagi punya beban, tanggungjawabmu sudah hamper sepenuhnya bisa kau penuhi dan yang terpenting kau sudah menemukan “dia” sandaranmu yang baru.
Kenapa juga aku harus tidak bahagia??? Bukankah kebahagiaan seorang sahabat adalah ketika mendapati kebahagiaan sahabat lainnya. Dan sejak keputusan itu maka aku dan kau mulai menjadi “asing”. Aku sibuk dengan penyelesaian tanggungjawabku, dan kau sudah mulai nyaman dengan dunia barumu bersama “dia”. Kita tak lagi sering berbagi. Dan puncaknya adalah aku benar-benar menghindarimu dan “dia”.
Sekarang, sudah lebih dari 1 tahun aku dan kau berjarak. Rindu. Pasti. Menyesal. Terkadang. Tapi rindu dan penyesalanku bukan tentang “kita” tapi tentang “sahabat”. Tak seharusnya persahabatan kalah oleh perasaan. Tak seharusnya aku menjadi lemah. Dan tentang kau, entahlah. Aku tak akan berkata jika itu hanya sekedar menerka. Apa yang kau rasakan?? Apakah kau punya rindu untuk kenangan?? Apakah kau punya harapan untuk kau dan aku menjadi “kita” dalam “sahabat” yang sebenarnya?? Aku memang benar menanyakannya dan aku tak akan menerka jawabannya. Biarlah waktu yang menjawab seperti ketika dulu dia memberikan identitas “sahabat” untuk “kita”.

Selasa, 18 Juni 2013

Kenduri Kamis Pon



Bagi saya, setiap  segala sesuatu itu memiliki alasannya masing-masing dan saya hanya dapat menilai setelah saya dapat paham dengan alasannya (itupun jika saya paham…hehe). 
Banyak kebiasaan yang ada disekitar kita yang mungkin anjurannya dalam al-qur’an tidak ada namun menjadi sebuah kebiasaan bahkan pula tradisi disekitar kita. Salah satunya adalah kebiasaan kenduri kamis pon didaerah saya, kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mendoakan keluarga ataupun kerabat yang telah meninggal dunia. Kebiasaan ini, saya belum menemukan hadisnya ataupun ayatnya dalam al-qur’an sebagai sebuah perintah namun, kebiasaan ini merupakan tradisi yang tak pernah ditinggalkan. Jika ditilik dari tidak adanya perintah ataupun hadist yang menganjurkannya bisa jadi kemungkinan ini merupakan sebuah tindakan bid’ah. Tetapi, jika kita mau mengkaji lebih jauh mengapa tradisi ini ada maka kita akan mulai mengerti.

Tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek saya belum lahir dan selalu dilaksanakan pada hari dan pasaran yang sama. Pasaran adalah nama hari dalam bahasa jawa terdiri dari Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing . dan kenapa hari kamis pon yang dipilih saya belum menemukan jawabannya. Tapi yang pasti hari kamis malam jum’at merupakan hari yang baik untuk mengirimkan do’a kepada orang yang telah meninggal.

Kegiatan kenduri kamis pon ini dapat kita nilai dari beberapa segi diantaranya :
1.Dari segi social
Dari segi social kegiatan ini bisa menjadi ajang silaturahmi bagi para tetangga karena system kegiatan ini adalah berkunjung ke rumah masing-masing anggota kelompok kenduri sehingga secara tidak langsung silaturrahmi antar warga akan terjaga, komunikasi terjalin dengan baik dan setiap warga akan lebih mengenal pribadi tetangganya serta berkurangnya rasa canggung ataupun rasa kesenjangan social diantara tetangga.
2. Dari segi ekonomi

Kegiatan kenduri rutin ini menurut saya, secara tidak langsung mengajarkan kepada masyarakat tentang cara berbagi rezeki serta manajemen keuangan sebab, untuk kegiatan rutin bulanan ini ibu rumah tangga harus menyisihkan sebagian uang belanjanya untuk kebutuhan kenduri seperti  membuat berkat (makanan yang akan dijadikan oleh-oleh bagi peserta kenduri), sehingga secara tidak langsung ibu-ibu didaerah saya terbisa dengan kegiatan menabung untuk keperluan kenduri (sebut : shodaqoh).
3. Dari segi kesehatan

Dari segi kesehatan kegiatan ini berperan unutk berpartisipasi dalam pemenuhan dan pemerataan perbaikan gizi sebab makanan dalam berkat kenduri biasanya berisi makanan bergizi tinggi seperti telur, ayam, dan juga buah-buahan…
4. Dari segi keagamaan

Dari segi keagamaan kegiatan ini mampu membiasakan warga untuk mengaji dan berdzikir. Minimal bagi mereka yang belum menjadikan mengaji dan berdzikir sebagai kebiasaan maka kegiatan ini akan membiasakanya meski hanya sebulan sekaliJ.

Itulah hasil analisis yang bisa saya berikan tentang kegiatan yang mungkin bagi sebagian orang merupakan bid’ah, namun dilingkungan saya tinggal itu merupakan tradisi. Terlepas bagaimana hukumnya Allhu a’lam…saya tidak berani menghukuminya. Karena yang perlu kita lakukan adalah meluruskan pola pikir. Bahwa, kegiatan kenduri seperti ini bebas dilakukan pada hari apa saja tergantung kesepakatan bersama. Tidak harus melulu hari kamis pon, bisa saja diganti jadi kamis wage, kamis legi dan kamis kamis yang lain atau hari-hari yang lain agar tidak ada pengkultusan terhadap hari dan pasaran. Karena yang tidak boleh adalah pengkultusannya. Sedangkan kegiatannya? Bagaimanapun juga memiliki manfaat baik dalam segi social, ekonomi, kesehatan dan keagamaan….Allahu a’lam…  gambar diambil dari 

Minggu, 02 Juni 2013

menemukan atau kehilangan

bagi perempuan itu, menemukan tak jauh beda artinya dengan kehilangan, 

kadang, ia menangis saat ia menemukan 

dan tak jarang dia tersenyum saat kehilangan

janggal mungkin, namun baginya...itulah cara memandang keadaan

baginya, menemukan hanyalah cara untuk mempersiapkan diri akan datangnya saat kehilangan

dan kehilangan adalah puncak dari kebahagiaan....

Kamis, 23 Mei 2013

Terima kasih Kawan....

Anugerah terindah dan hal ter-absurd dalam hidupku adalah mengenal orang-orang seperti kalian....
orang-orang yang tak pernah melewatkan moment pengabadian diri dalam gambar
manusia-manusia sabar yang selalu yakin akan datangnya cahaya penerang gelap

wajah-wajah yang tak pernah lupa tersenyum 

pribadi-pribadi penuh semangat yang tak pernah berhenti mencari arti kata "dewasa" 

jiwa-jiwa pemberontak yang tak pernah takut untuk menantang dunia


wajah-wajah polos yang tak pernah kehilangan kata "bahagia"

orang-orang yang selalu bergembira meski hanya punya sebungkus nasi  untuk kekenyangan bersama
dan pemilik jiwa yang
selalu apa adanya, jujur dengan perasaanya 

Selasa, 07 Mei 2013

DOA SEHELAI DAUN KERING


Janganku suaraku, ya 'Aziz
Sedangkan firmanMupun diabaikan
Jangankan ucapanku, ya Qawiy
Sedangkan ayatMupun disepelekan
Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah
Sedangkan kasih sayangMupun dibuang
Jangankan sapaanku, ya Matin
Sedangkan solusi tawaranMupun diremehkan
Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka
Sedangkan jasa penciptaanMupun dihapus
Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka
Sedangkan kitabMu diingkari oleh seribu peradaban
Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati
Sedangkan rahman rahimMu diingat hanya sangat sesekali
Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakit
Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu
Sedangkan IbrahimMu dibakar
Sedangkan YunusMu dicampakkan ke laut
Sedangkan NuhMu dibiarkan kesepian
Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir
Wahai Jabbar Mutakabbir
Engkau Maha Agung dan aku kerdil
Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan
Engkau Maha Kuat dan aku lemah
Engkau Maha Kaya dan aku papa
Engkau Maha Suci dan aku kumuh
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya
Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar
Rasul kekasihMu maĆ­shum dan aku bergelimang hawa
Nabi utusanmu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab
Wahai Mannan wahai Karim
Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu
Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu
Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaan-Mu


Emha Ainun Nadjib Jakarta 11 Pebruari 1999