Bagi saya, setiap segala sesuatu itu memiliki alasannya masing-masing dan saya hanya dapat menilai setelah saya dapat paham dengan alasannya (itupun jika saya paham…hehe).
Banyak kebiasaan yang ada disekitar kita yang mungkin anjurannya dalam al-qur’an tidak ada namun menjadi sebuah kebiasaan bahkan pula tradisi disekitar kita. Salah satunya adalah kebiasaan kenduri kamis pon didaerah saya, kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mendoakan keluarga ataupun kerabat yang telah meninggal dunia. Kebiasaan ini, saya belum menemukan hadisnya ataupun ayatnya dalam al-qur’an sebagai sebuah perintah namun, kebiasaan ini merupakan tradisi yang tak pernah ditinggalkan. Jika ditilik dari tidak adanya perintah ataupun hadist yang menganjurkannya bisa jadi kemungkinan ini merupakan sebuah tindakan bid’ah. Tetapi, jika kita mau mengkaji lebih jauh mengapa tradisi ini ada maka kita akan mulai mengerti.
Tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek saya belum lahir dan selalu dilaksanakan pada hari dan pasaran yang sama. Pasaran adalah nama hari dalam bahasa jawa terdiri dari Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing . dan kenapa hari kamis pon yang dipilih saya belum menemukan jawabannya. Tapi yang pasti hari kamis malam jum’at merupakan hari yang baik untuk mengirimkan do’a kepada orang yang telah meninggal.
Kegiatan kenduri kamis pon ini dapat kita nilai dari beberapa segi diantaranya :
1.Dari segi social
Dari segi social kegiatan ini bisa menjadi ajang silaturahmi bagi para tetangga karena system kegiatan ini adalah berkunjung ke rumah masing-masing anggota kelompok kenduri sehingga secara tidak langsung silaturrahmi antar warga akan terjaga, komunikasi terjalin dengan baik dan setiap warga akan lebih mengenal pribadi tetangganya serta berkurangnya rasa canggung ataupun rasa kesenjangan social diantara tetangga.
2. Dari segi ekonomi
Kegiatan kenduri rutin ini menurut saya, secara tidak langsung mengajarkan kepada masyarakat tentang cara berbagi rezeki serta manajemen keuangan sebab, untuk kegiatan rutin bulanan ini ibu rumah tangga harus menyisihkan sebagian uang belanjanya untuk kebutuhan kenduri seperti membuat berkat (makanan yang akan dijadikan oleh-oleh bagi peserta kenduri), sehingga secara tidak langsung ibu-ibu didaerah saya terbisa dengan kegiatan menabung untuk keperluan kenduri (sebut : shodaqoh).
3. Dari segi kesehatan
Dari segi kesehatan kegiatan ini berperan unutk berpartisipasi dalam pemenuhan dan pemerataan perbaikan gizi sebab makanan dalam berkat kenduri biasanya berisi makanan bergizi tinggi seperti telur, ayam, dan juga buah-buahan…
4. Dari segi keagamaan
Dari segi keagamaan kegiatan ini mampu membiasakan warga untuk mengaji dan berdzikir. Minimal bagi mereka yang belum menjadikan mengaji dan berdzikir sebagai kebiasaan maka kegiatan ini akan membiasakanya meski hanya sebulan sekaliJ.
Itulah hasil analisis yang bisa saya berikan tentang kegiatan yang mungkin bagi sebagian orang merupakan bid’ah, namun dilingkungan saya tinggal itu merupakan tradisi. Terlepas bagaimana hukumnya Allhu a’lam…saya tidak berani menghukuminya. Karena yang perlu kita lakukan adalah meluruskan pola pikir. Bahwa, kegiatan kenduri seperti ini bebas dilakukan pada hari apa saja tergantung kesepakatan bersama. Tidak harus melulu hari kamis pon, bisa saja diganti jadi kamis wage, kamis legi dan kamis kamis yang lain atau hari-hari yang lain agar tidak ada pengkultusan terhadap hari dan pasaran. Karena yang tidak boleh adalah pengkultusannya. Sedangkan kegiatannya? Bagaimanapun juga memiliki manfaat baik dalam segi social, ekonomi, kesehatan dan keagamaan….Allahu a’lam… gambar diambil dari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar